Sahabat kecilku

Dear Nurul ( lebih dari sahabatku),

Aku bahagia kamu pernah mengisi hari-hariku, semua terasa berwarna bersamamu. Walau jarak kita sudah jauh tetapi kenangan selalu menyatukan kita dalam kerinduan yang tak terhitung lagi. Ini tahun ke lima kita belum pernah ketemu setelah perpisahan, memang kita sering komunikasi tetapi mungkin sudah banyak hal yang terlewatkan antara kau dan aku .

Baiklah, apa kabarmu hari ini? Semoga sehat selalu dan tetap menikmati hari-harimu, aku berdoa kelak apa yang engkau impikan dapat kamu raih. 

sejuta harapku agar kau bisa lebih bahagia lagi. Lebih damai lagi dengan dirimu sendiri tentunya.

Aku selalu bertanya, masih kah engkau mengingat kenangan kita dulu di masa kecil? Jawabanmu semakin membuatku terharu, kau menceritakan semua secara detail dan sama sekali tidak ada yang terlewatkan darimu, bahkan kau mengingatkan semua memoriku yg telah usang dulu. Aku sangat bahagia walaupun ada beberapa yg tak bisa ku ingat tapi ketika kau berkisah kembali di obrolan chat aku seperti kembali ke masa dulu ketika bersamamu.
Yah, seperti katamu di chat kadang kamu senyum sendiri mengingat kelakuanku yang dulu begitu gila,bahkan aku menertawakan diriku sendiri karena kegilaan ini semakin bertambah, kamu mengingat semua tentangku dari hal konyol dan memang semua masih sama. Mengingatnya saja membuatku sangat bahagia.

Kamu mengingatkanku kembali tentang kekonyolan kita dulu, saat tahun baru kita merayakannya di teras rumah sambil makan nasi kuning, hal yg menyedihkan ketika semua org mungkin menikmati tahun baru dengan kembang api,berpesta dengan kawan-kawannya,tertawa lepas dan kita hanya menikmati malam yang gelap dengan sebatang lilin (efek mati lampu) sambil memandangi langit yang penuh bintang dan bulan yang indah. Tapi kita tetap menikmatinya bukan? Ah, malam itu sangat damai.

Kamu juga mengingatkanku tentang kemalasan kita saat mengaji dirumahku. Kelakuan yang seringkali kita ulangi saat waktu jam mengaji tiba, ketika tidak di awasi kita malah kabur dan bermain, setelah itu kita akan menerima hukuman yang sangat menyebalkan dengan menambah bacaan 1 juz esoknya, sangat membosankan jadwal bermain kita harus dikurangi dengan jam mengaji 3x sehari, bahkan sebelum berangkat sekolah kita wajib mengaji. Dulu mengaji itu rasanya seperti minum obat dan tidak mengenakkan. Tapi tetap saja kita adalah anak yang sangat penurut dan patuh pada peraturan, kita tidak bisa menolak pun protes. Begitulah kita di didik pada zamannya.


Kita selalu bersama hampir 24 jam,tidak ada yg terlewatkan sedikitpun karena sedih,senang, kecewa kita selalu berbagi saat itu juga. Apa yang aku rasakan seolah-olah kamu juga merasakannya begitupun, sebaliknya hingga kata KITA pun menjadi tempat untuk membuang semua kepenatan dan perasaan sedih yang tengah kita alami. Dari SD hingga SMP kita selalu berangkat bersama ke sekolah, sorenya kamu duduk-duduk di depan rumahku, kita menghabiskan waktu magrib dan isya di mesjid, malamnya selepas sholat isya kita makan mie telur, karena  makanan yang paling mudah kita buat dan hampir setiap malam. Sangat menyebalkan ketika tugasmu yang harus di salin ke satu buku kamu serahkan ke aku, katamu aku sangat kau andalkan dalam hal menulis catatan bukan? Ah aku tahu itu, kamu malas mencatat dan menyukai tulisanku. Apalagi kamu lebih suka bermain dengan handphone mu di banding buku. Aku tidak akan pernah lupa karena kamu selalu ada menemaniku di rumah, hampir tiap malam kamu menginap di rumahku, kita tidur bareng, kadang kita juga sibuk dengan dunia kita sendiri, satu hal yang menggelikan ketika kita mengadakan kontes menyanyi dengan gaya rambut kucir, baju dan rok di ikat kemudian kita ngumpulin ema,emi,mifta, faidah, indah buat acara fashion show lalu acaranya berlangsung dengan gaduh, rumah jadi berantakan dan kita pun jadi sasaran omelan. Kita jarang melakukan kontes buatan jika tidak ada acara ngumpul di rumah. Karena kita bakal dapat ceramah gratis jika buat keributan di rumah pada malam hari. Itu sebabnya kita selalu ngerumpi dengan suara berbisik-bisik (pelankan suaramu) jika tidak mau di tegur sama Romusa. hahahha menyebalkan sekali bahkan berbicara dengan suara berisikpun  kita tidak punya kebebasan. Tapi kita selalu menikmati setiap penekanan hidup. begitulah malam – malam kita habiskan dengan suara jangkrik.

Di saat bulan puasa, hampir semua aktifitas kita habiskan di mesjid dan selalu saja membuat keributan pada Toa mesjid. Banyak kegilaan lagi yang kita lakukan bersama dan itu semua layak di kenang.
Suatu hal yang sampai sekarang selalu aku ingat ketika Pameran Kota. Aku yang tidak pernah di izinkan keluar rumah (kecuali ke sekolah,tugas kelompok pun tak boleh jauh-jauh,ke mesjid,pokoknya tidak boleh jauh dari rumah)  tiba-tiba merasa bebas malam itu. Untuk pertama kalinya di usiaku yang ke 17 tahun keluar menikmati malam pameran. Sebenarnya aku boleh ikut karena bareng keluarga, jika hanya berdua dengan kamu pasti aku tidak pernah bisa keluar rumah. Tapi yang jelas kita menikmati malam itu untuk nonton konser hingga kita lupa waktu pulang,  kita malah terpisah dan aku benci saat seseorang menginjak kakiku dan pura-pura menubruk dari samping hingga sendalku putus. Aku benar-benar kesel dan bagiku itu kali pertama dan terakhir aku nonton konser.Bagai cinderella yang turun dari panggung, aku mencarimu dengan sendal yang putus. Ke sana kemari ditengah keramaian aku mencarimu berharap bisa segera pulang, setelah ku dapati kau yang mojok dengan kenalanmu dengan entengnya memanggilku untuk mencari tebengan pulang, karena kita sudah di tinggal pulang oleh yg lain. Menyedihkan bukan ? 
Rasanya seperti kualat dan kena kutukan, dengan terpaksa kita harus nebeng pulang dengan kenalanmu (kita gotik dan aku sangat malu mengingat kejadian itu). Tidak ada pilihan lain pameran pun sudah mulai sepi dan aku ragu untuk ikut pulang dengan kenalanmu, katamu percaya saja lagian kita bonceng tiga (ah benar benar menyebalkan). Ini bukan larut malam lagi tetapi sudah menjelang subuh, dengan Bismillah masuk rumah sambil mengendap-ngendap bagai maling. Tahu tidak? Kamu mengingatkan aku kejadian esok pagi setelah malam pameran, hal ini benar-benar ingin aku lupakan tetapi kamu mengingatkan lagi di chat. Aku benar-benar mati kutu esoknya, ketika bangun pagi belum cuci muka aku sudah di ceramahin ba bi bu bla bla bla dan omelan yang mengancam untuk tidak boleh ikut-ikutan lagi. Aku tidak bisa mengelak karena aku ingkar janji pulang larut malam, rencananya sisa gulali semalam yg aku bawa pulang dari pameran akan ku jadikan sogokan tapi pada akhirnya aku tetap dapat sarapan telinga. Karena aku tidak bisa berkutip kamulah satu-satunya tempatku mengumpat, sungguh mengharukan (gulalinya mencair seperti mataku yang berkaca-kaca karena dapat ultimatum).

Sabarlah , seiring berjalannya waktu kita pasti akan bertemu dan bernostalgia lagi. Membingkai semua kenangan pahit-manis kehidupan kita dulu, kamu jangan khawatir tentangku disini, kamu pernah bilang mungkin suatu saat jika kita ketemu kembali tidak akan seperti dulu lagi tenanglah , tidak akan ada yg berubah jika kamu masih merindukanku, bahkan semua akan bertambah menyenangkan dengan kisah perjalanan kita yang beda. Kita akan punya banyak cerita yg telah tertinggal selama beberapa tahun. Sabarlah sebentar tuhan pasti mendengar, yakinlah bahwa kelak kita akan bertemu dengan rindu yang sudah tak terbilang ini..





Sincerely,
Kenanganmu ( Aku dan Mars)

Komentar

Postingan Populer