Selama berabad-abad,
bahkan milenium.
Seksualitas wanita dianggap
Sebagai salah satu kekuatan paling berbahaya di alam semesta.
Hal yang perlu dikendalikan secara fisik, hukum dan psikis.
Sejak dari taman firdaus.
Dan wanita pertama, hawa,
Salome, medusa, helen dari troya
Kami adalah wanita penggoda,
dijiwai dengan kekuatan besar.
Mampu mengalami, dan memberikan kenikmatan hebat.
Tapi juga rasa sakit yang luar biasa.
Apapun itu,
Selalu kami yang salah.
Sebagai wanita kita di ajarkan sejak kecil, pentingnya membuat orang lain bahagia.
Jadilah cantik, tenang, menyenangkan.
Jadilah seperti yang dia inginkan,jadi kita belajar cara menyajikan bagian diri kita yang menyenangkan,bagi orang yang ingin kita puaskan.
Tapi bagian lain itu masih ada, mendidih, gelisah.
Karena tak senang diabaikan, ditolak, disembunyikan, dan ditutupi dengan senyuman cantik.
Gadis baik yang sebenarnya.
Takut.
Psikiater pernah bilang
Terapis tak bisa mengandalkan pasiennya, untuk menjadi narator andal hidup mereka.
Bukan karena mereka berniat menipu.
Tapi karena kondisi manusia,
yang bisa sangat menginginkan sesuatu,
hingga tak jujur tentang hal tersebut.
Kita tak bisa jujur dengan orang lain,
karena tak bisa jujur dengan diri sendiri
Padahal sebagai wanita
Kita dijiwai kekuatan besar
Yang terpenting, kekuatan pilihan.
Saat kita memilih akan hidup,
dengan siapa.
Kita juga memilih
Ingin menjadi siapa di dunia.
Tapi kita tak bisa membuat pilihan itu
Sampai tahu siapa diri kita sebenarnya.
Setelah kita menemukan, menerima
dan senang dengan diri sejati kita dalam semua kejayaannya.
Maka keputusannya menjadi jelas
Saat menjadi diri yang kita inginkan
Maka semua hal lain,
hanyalah tambahan.
Karena hidup sendiri terdiri,
dari sejumlah pilihan.
Satu keputusan terpenting,
yang akan kita buat.
Adalah tentang pasangan hidup.
Siapa dia.
Siapa diri kita saat bersama dia.
Apakah kita sungguh ingin dia, adalah orang itu.
Pada akhirnya serangkaian risiko,
yang kita ambil,
yang kita harap kita ambil.
Tapi mungkin risiko terbesar,
adalah membiarkan diri kita,
untuk melepaskan,
untuk membebaskan diri.
Hidup pada masa kini,
dan percaya.
Kita bisa membuat masa depan sendiri.
Untuk para wanita-wanita hebat,
Jangan lupa diri sejati mu.
Karena sadar atau tidak, sejak menikah dan memiliki anak, akan lebih sibuk mengurus dan menyenangkan keluarga,hingga lupa untuk mencintai diri sendiri.
Bagi Para wanita, sebagian mungkin berpikir bahwa mencintai diri sendiri adalah tindakan yang egois dan tidak patut dilakukan oleh seorang wanita yang telah menikah dan memiliki momongan. Namun, memikirkan kebutuhan diri sendiri pun tidak kalah pentingnya. Kendati telah berkeluarga, bukan berarti harus mengesampingkan segala yang dibutuhkan atau diinginkan. Jadilah jujur pada diri sendiri.
Bukan berarti melupakan tugas tersebut, tetapi berjalanlah dengan seimbang agar tercipta keharmonisan. Wanita harus punya semangat.
Saat kita merasa sangat berwarna,
Itulah pilihan yang baik bersama orang yang tepat.
Komentar