Aku & Kau (1)





Masih di Januari... 

Cepat atau lambat kau akan menyadari kalau perasaanku padamu hanyalah sebuah rasa pertemanan dan tak lebih, saat itu kau selalu menghubungiku bahkan untuk ke berapa kalinya kau mengungkapkan perasaanmu padaku, seperti biasa aku selalu menganggap itu sebagai lelucon. Padamu aku berharap kau masih bisa menjadi temanku tapi aku sadar perasaan sukamu padaku adalah hak mu dan aku tidak bisa memintamu melupakan rasa mu padaku , itu akan terlihat egois. Seharusnya kau ingat saat pertama kali kau mengatakan suka padaku, aku bilang aku tidak bisa menerima hubungan dalam bentuk apapun, suatu saat mungkin aku mau berkomitmen tapi nanti, apa yang kau lakukan? Kau terus mengejar sesekali menguji pertahanan ku, tapi kenapa? Kau tetap saja menghubungiku dan lagi kau bilang bahwa sekarang harus memikirkan pasangan, apa yang harus kulakukan disaat aku tidak ingin menorehkan luka pada orang lain ? Kau bilang akan membantuku ? Sudah berulangkali aku jelaskan bahwa aku adalah orang yang sulit dimengerti, aku takut memulai sebuah hubungan, aku tidak mau ada yang tersakiti dan bahkan berulang kali aku katakan betapa susahnya aku memulai. Tapi lagi lagi kau menyatakan rasamu apa kau selalu begitu? Aku tidak berhak memintamu untuk menyerah tapi kau selalu membuatku merasa bersalah. Aku bimbang bukan karena pamor ku, bukan pula karena aku tidak berperasaan. Tapi kau membuatku gusar, sebagai wanita aku lebih menyukai pertemanan, tapi kau selalu saja memberiku kultum. Saat itu aku belum memutuskan untuk menerimamu di sisiku tetapi kau sudah memanggil namaku dengan panggilan yang kedengaran menggelikan dan membuatku aneh rasanya, bahkan terasa ada sebuah dinding penyekat antara kau dan aku. Tapi kau tidak pernah menyerah untuk menaklukkan perasaanku. Ketahuilah aku tidak ingin memilih, bukan karena terlalu banyaknya pilihan yang tak bisa aku pilih, tetapi aku tidak mau membuat luka, tapi kau jawab untuk selalu mempercayaiku dan menerima konsekuensi semuanya. Kau bahkan meletakkan kepercayaan mu disaat aku sendiri tidak merasa kuat menghadapi godaan yang datang. Kau terlalu bersemangat dan itu yang ku takutkan darimu, tapi kau bilang akan sayang padaku, akan mengerti tentangku, dan semua menyangkut aku kau siap terima. Tapi aku terlalu takut dengan kata katamu. Tak ada kata menyerah sepertinya dalam dirimu, ketika aku mengatakan cobalah tanyakan kembali pada hatimu apa kau benar benar sangat menyukaiku? jika perlu kau renungkan lagi dan kau jawab apa aku ragu? Bukan aku ragu tapi aku hanya takut kau menyukaiku karena ambisi mu, aku benar benar khawatir jika kau seperti kebanyakan pria yang menyukai wanita karena ia cantik, manis, elok rupanya dan mempesona! Lagi lagi kau bilang kau menyukaiku karena aku bisa melengkapi kekuranganmu, lalu? Apakah dengan begitu saja aku percaya kata katamu itu? aku harus bagaimana menghadapi mu? Esok dan seterusnya kau tanyakan hubungan ini, apa aku adalah tawanan? Ini sebagian salahku membuatmu merasa aku memberimu celah dan jalan menuju hatiku, tak bisakah kau memberiku waktu memikirkan ini semua? Kau terlalu mendesak ku bahkan ketika aku dalam keadaan genting. Satu hal yang membuat aku memberimu jalan adalah kecerobohan ku yang tidak dapat menghindari mu, dan aku terlalu menuntut untuk kau mengerti aku, ini tentang aku dan kau yang akan menjadi kita, tetapi ini hanyalah alasanku untuk menegaskan padamu. Tapi kau tidak menyerah bahkan ketika aku ingin menjauh.

Aku bukan orang yang komunikatif, tapi katamu kau akan menunggu dan aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan yang kau sendiri buat. Kau tanya kenapa aku membuatmu menunggu lama, bahkan tiga tahun lalu kau bilang perasaanmu masih sama dan tetap padaku ?  Tapi aku selalu berharap agar kau tidak menjadi figuran dalam kisah ku, aku membiarkanmu mencari jalan menuju hatiku, jika kau tak menemukannya aku harap kau bisa bebas dari aku, karena kau memilihku dengan perasaanmu. Maka tetaplah kau mencari jalan dan temukanlah kuncinya agar ini menjadi adil. Satu hal yang tidak kau tahu adalah aku yang benar benar tidak bisa mengistimewakan mu. Tapi tetap saja kau terlihat bahagia, aku bahkan tidak pernah berinteraksi secara spesial kepada siapapun tapi kau sepertinya terlalu berharap banyak dariku. Setelah dua hari memberimu kesempatan kau kembali bertanya, dan aku kaget ketika kau menanyakan perasaanku padamu? Tapi sungguh jawabanku sangat jujur karena perasaanku padamu tak tergambar,apa yang kurasa tak dapat ku ungkapkan, aku tidak mau mengecewakanmu dan membuatmu sedih, begitulah caraku bersikap pada perasaanmu, kau tidak puas dengan jawabanku tetapi aku benar benar tidak punya alasan dan jawaban tepat, aku tidak mau berbohong dan tidak mau membuat kesalahan lagi. Aku menantang mu pada sebuah bentuk komitmen, kau bilang jika itu serius kau akan membuat sebuah keluarga kecil bersamaku, tapi sebenarnya aku khawatir dengan pernyataan itu. Aku khawatir jika menjalani kehidupan berumah tangga tanpa bisa menyukaimu, aku takut kau terlalu suka dan rasamu akan hilang seiring berjalannya waktu. Dari awal aku sudah bilang menjalani hubungan tak mudah karena akan banyak godaan dalam mempertahankan rasa agar tetap terjaga, ah aku terlalu takut. Tapi kau terlalu bersemangat. Kau terus memanggilku dengan panggilan sayang, rasanya risih & aku pun tersadar kalau aku tak bisa merasakan seperti apa yang kau rasakan. Biarlah seperti air katamu.Aku pun berusaha mengikuti arusnya, seperti katamu biarpun kau dan aku tidak bisa saling bertemu jadikanlah komunikasi tetap lancar agar tetap langgeng, tapi itu masih katamu padaku. Karena aku sangat sibuk untuk melakukan yang terbaik buat diriku, aku mohon jangan membuatku terlihat salah. Tanpa kau lihat sebenarnya aku bisa membohongimu, bisa saja aku bilang sayang dan cinta, bisa saja aku menuruti semua kemauan mu atau semua yang membuatmu senang tapi aku tetap aku, aku selalu jujur karena hatiku berat mengatakan yang tidak sesuai pada kenyataannya, kau dengan mudahnya meyakini perasaanmu tapi aku tidak bisa menyukaimu lebih dari seorang teman, aku sendiri tidak bisa membaca jalan pikiranku seharusnya dari awal kau tersadar kalau tak sedikit pun ada rasa lebih padamu, ada apa dengan kau? Aku bahkan bingung membalas semua pertanyaan pertanyaan mu, aku terganggu dengan kehadiranmu,  aku tak bisa tenang karena kau selalu banyak ingin tahu tentangku, tidakkah kau ingat bahwa aku adalah orang yang tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang lain, aku tidak mau berjudi dengan jiwaku, walaupun sebenarnya aku merasa risih dengan perhatianmu yang tidak kuharap kan sama sekali, aku berusaha mengikuti skenario kisah cintamu tapi tetap saja hatiku tak terenyuh, apa yang salah padaku? 

Aku menjawab semua pertanyaan mu dengan jujur, tapi bahkan aku belum menerimamu kau sudah banyak permintaan agar aku banyak belajar mengurus rumah tangga, tapi jujur aku tak bisa berubah menjadi yang kau harapkan, aku ingin berubah karena diriku sendiri bukan karena seperti ingin mu atau orang lain. Kenapa kau terus bertanya?  kau tahu? Aku tidak pernah keluar rumah atau keluyuran di pinggir jalan tapi kau memintaku untuk mengenalkan dirimu pada keluargaku, tidak sekarang kataku ! Bukan kah terlebih dahulu kita harus saling mengenal ? Lagi lagi kau menuruti semua aturan ini, tapi jangan pernah berharap banyak padaku karena aku bahkan tak pernah memikirkan namamu. Ah aku minta maaf. Tapi aku memang tidak ingin jalan berdua denganmu saat ini karena aku pun tak mengerti hatiku. 

Aku membiarkanmu tanpa jawaban, aku terlihat salah karena menggantung mu dan bukan itu yang aku mau. Aku harap kau benar benar lelah dengan sikapku. Jadi kapan kau akan sadar? Apa kau harus tetap menyimpan rasamu itu sampai benar benar kau datang padaku untuk menjadikanku pasanganmu? seberapa gigihnya keinginanmu mendapatkan hatiku?
Maaf. Mungkin aku akan bersama dengan hati yang lebih siap, aku tahu harus belajar banyak hal tentang aku dan kau yang menjadi kita tapi kenapa aku tak bisa sama sekali memandang mu? kau malah membuatku menjadi semakin terlihat egois. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan padamu? Haruskah Aku membuatmu merasa jenuh padaku Ataukah cepat atau lambat aku meminta maaf pada kau walaupun tidak sesuai ingin mu, aku tak bisa membalas rasa tulus mu dengan penuh kepurapuraan. Walaupun begitu setidaknya aku bijaksana dalam mengenal perasaanmu. Itu bagiku dan maafkan aku jika aku akan menganggap mu sebagai teman saja. Dari dulu , sekarang dan seterusnya kau adalah temanku yang baik. Aku akan minta maaf dan berterima kasih, tapi rasamu itu adalah hak mu yang tidak dapat ku hentikan.

Aku tidak ingin orang lain terluka dan tersakiti, itulah sebabnya aku memilih diriku saat ini untuk terus belajar berprinsip pada kesendirian.

Maaf,

Komentar

Postingan Populer