Senja Bersama Inge
Malika memilih diam di tempat itu, bukan untuk bertapa atau meredakan gelisah yang melandanya. Tempat itu penuh rahasia, sumur di dalam pohon. Ketika ulul sahabatnya berkata dunia tak seindah negeri dongeng. Malika mengatakan. Tidak !
"Kenapa?" tanya ulul.
"Dunia ini indah dan penuh rahasia" ucapnya.
"Kamu ngawur,"
Malika hanya tersenyum dengan penuh arti.
***
Malika, gadis kecil berusia 9 tahun berlari-lari kecil dan meloncat-loncat di atas jerami. Terlihat girang dan sangat bahagia, ia mencicipi gatalnya jerami dan kotornya lumpur basah. Ayahnya akan marah jika tahu apa yang sedang dilakukan sekarang di sawah.
Beberapa minggu kemudian, kerabat malika datang berkunjung. Sore itu, malika menikmati bermain bunga putri malu di sekitar rumah. Sejauh memandang desa kecil itu belum tersentuh pembangunan, semua masih terlihat pemandangan hijau yang membuat perasaan sejuk.
"Hei gadis".
"Panggil saja aku malika"
"Oh, namaku rama. Aku baru saja datang dan berkunjung di rumahmu, aku melihatmu dari sandrela (jendela) rumah, kau sangat ceria dengan rumput itu"
"Aku tidak menanyakan namamu bisa kau pergi dari sini, kau cerewet dan ini bukan rumput tapi bunga putri malu"
"Bisakah aku ikut bermain?".
"...."
"Rama kau disini, tadi di cari Ama (bapak). Siapa ono alawe (anak perempuan) ini? "
"Ini malika"
malika ini adikku namanya inge".
"Ok, kalian berdua bisa pergi sekarang. Kalau kalian berisik disini putri malu yg sedang tidur jadi terganggu"
"Mana putrinya, inge lihat itu hanya rumput"
"stt.. diam lah inge kalau kau berisik terus malika tidak akan menerima kita sebagai temannya".
"Rama, itu silatao (ayam jantan) punya jagon nampak bagus"
"Inge, malika melarang kita berisik disini."
"maaflah malika, inge dan rama boleh main dengan kamu, pliss"
"Iya malika, kau sambutlah aku dan inge dengan baik. Kami mau jadi temanmu"
"Baiklah, kalian berdua lihatlah bunga putri malu ini. Coba sentuh maka ia akan tertidur".
Rama, malika dan inge kemudian bermain. Tak lama Ama memanggil mereka untuk makan bersama.
Rama dan Inge memanglah saudara, namun wajah mereka tidak mirip sedikitpun. Rama terlihat seperti orang india dengan hidung yang mancung, usianya sekitar 9 tahun sedangkan Inge seperti keturunan Tionghoa dengan mata sipit dan warna kulit yang sangat putih. Usianya sekitar 7 tahun. Mereka datang dari Sumatera dengan tutur bahasa Li Niha (Bahasa Nias).
Di ruang tamu, terlihat rama sedang asyik bermain monopoli bersama betty dan hilda. Waktu menunjukkan pukul 17.32 Wita, karena ini musim panen padi, malika terkadang mencuri kesempatan keluar rumah di kala sore hari hanya untuk bermain di jerami.
Malika yang sedang mengendap-ngendap menuju pintu belakang terlihat oleh inge.
" Hei mau kemana? tanya inge".
"Stt... Jangan bersuara, apa kau mau ikut? ayo cepat ikuti langkahku".
"Kemana? inge mengulang pertanyaannya".
"Sudah jangan banyak tanya"
Sekitar lima meter dari rumah, malika dan inge tiba di pematangan sawah.
"Lihatlah inge, jerami di sana masih tinggi sepertinya baru selesai di buldoser. Ayo kesana sebelum pemiliknya membakar jerami itu".
" Lö Nasa pernah Ya' o melihat jerami"
"Sudah tidak usah berbicara, aku tidak mengerti bahasamu yang blepotan itu inge. Lebih baik ikuti saja kataku, lagian aku lebih tua darimu".
"Ayo naik ke sini"
"Bagaimana aku naiknya malika, jerami ini sangat tinggi dan aku sudah jatuh beberapa kali"
"Kau jatuh karena belum berusaha mencoba terus"
Akhirnya, inge bisa sampai ke atas dan mengikuti cara malika meloncat di jerami. Terlihat wajah mereka penuh kegirangan dan mereka menjadi sangat akrab.
Sesekali inge menggaruk tangannya karena gatal.
"Tidak usah digaruk, disana ada sumur nanti kita bersihkan kotorannya, ayo meloncat dan kita terbang ke udara"
"Yeaaahhh... inge baru pertama main jerami ini malika, apa kita tidak di cari? tadi tidak bilang Ama bagaimana kalau kita dapat marah?"
" Sudahlah, itu urusan belakang"
Karena kelelahan inge berbaring di jerami sambil memandang langit yang sebentar lagi akan di hiasi dengan bintang dan rembulan. Malika pun sejenak duduk beristirahat sambil bercerita banyak.
"Tahukah inge, berat jerami selalu berubah setiap musim, jerami lebih ringan saat masih segar di musim gugur atau musim semi. Lalu berubah saat musim dingin yang basah"
inge yang masih tujuh tahun belum paham dengan penjelasan malika".

Komentar