Bapak
Di penghujung malam, aku merindumu.
Saat ku tulis coretan ini, aku sedang terjaga dari tidur lelap ku.
Hari itu, aku mengatakan kepada mars kalau kau sosok pria yang kejam, menakutkan, seperti romusha, dan semua kata-kata jelek tentangmu ku ungkapkan padanya. Aku juga bilang kau punya sebuah bilah kayu yang mungil sebagai ancaman kepada anak-anakmu jika melakukan kesalahan. Walaupun bukan sebuah pedang tapi kayu juga sangat menakutkan bagi kami anakmu.
Aku tidak menikmati masa kecilku untuk merasakan apa arti menangis dengan suara yang menjerit seperti kebanyakan anak kecil yang menangis dengan suara lengkingan. Jika aku menangis semua akan menakutiku dengan kayumu jika mengeluarkan suara tangisan, aku tidak bisa menolak ancaman itu, jadi aku hanya bisa menangis tanpa suara. Tapi aku yang sering di ganggu, tetap saja tidak pernah mengadu.
Kau seperti raja yang kejam pada rakyatmu, yang tidak mau peduli pada pendapat kami.
Badanmu yang tidak perkasa tetap tidak membuat kami bisa melawanmu, kau kami hormati, patuhi, dan ketika berbicara denganmu harus dengan kata yang sopan santun. Meskipun begitu, kami tetap menjadi anak yang penurut.
Rumah menjadi sepi ketika anakmu mulai berkeluarga dan melanjutkan pendidikan di kota lain. Artinya hanya aku, bapak & mama di rumah. Walaupun begitu, aku punya nurul yang selalu datang menemaniku. Kau pun hampir tiap malam di kunjungi oleh teman seperjuanganmu, para sesepuh yang setia menemanimu ngobrol. Saat itu aku mendengar kau berbincang dengan para sesepuh lainnya membahas G30S PKI, membahas lubang buaya, jaman pak soekarno sampai pak soeharto, bahkan kau bersemangat sekali berbincang hingga ke rana partai politik di jamanmu. Aku tahu cerita itu di buku pelajaran sejarah, tapi aku ingin sekali mengajakmu berdebat tentang sejarah bersama sesepuh yang lain. Tapi aku tidak punya keberanian sama sekali saat itu.
Masih sangat jelas di ingatanku, ketika di rumah hanya kita berdua, mama sedang berkunjung ke rumah saudaranya selama dua hari, aku yang ingin merasakan nonton bareng seperti menikmati komedi putar ala sinetron terfavorit tersanjung dengan nurul di rumah sempuh tetangga di ujung lorong tak berani meminta ijin. Kala itu aku menunggu agar kau tidur cepat dan aku bisa kabur lewat jendela. Akhirnya aku nekat keluar rumah dan bertemu nurul, aku merasa salah karena keluar tanpa ijinmu, aku tidak konsentrasi menonton walaupun suasananya sangat ramai. Aku pulang dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi, esoknya kau menatapku dengan aneh dan aku tahu kalau kau sedang curiga padaku. Aku tidak pernah bisa berbohong tapi aku tidak mau membahasnya.
Kau paling tidak suka melihat anakmu keluar rumah di kala senja datang, bahkan aku dan nurul hampir saja mendapat hukuman darimu ketika bermain di luar rumah kemudian berlari masuk ke pintu depan dan kemudian kami saling mengejar dan kau datang dengan wajah murka menatap kami. Aku sangat takut waktu itu. Hingga nurul tak kunjung datang malamnya untuk menemaniku.
Aku benar-benar marah padamu, aku juga jarang bercakap-cakap denganmu, aku pikir kau melatih anakmu seperti narapidana. Semua inginmu harus di dengarkan dan tidak ada yang boleh menolaknya.
Seiring berjalannya waktu aku belajar memahamimu, ketika makan bersama aku mencoba mengakrabimu, bercerita yang tidak penting dan membuat lelucon agar aku bisa melihatmu tertawa, karena kau orang yang diam dengan seribu ekspresi yang tak bisa di mengerti. Aku ingin sekali membantahmu sekali kali, tapi tidak pernah bisa, bahkan kita punya jam waktu makan tertentu dengan piring & gelas kesayanganmu. Bahkan aku sempat iri dengan piring makanmu yang unik itu, kau selalu menikmati makan dengannya sedangkan aku selalu tidak punya keberanian memberontakmu. Jika para sesepuh datang ke rumah aku tergesa-gesa menyiapkan kue apa saja yang ada di toples, para sahabatmu sangat menyukaiku dan senang bertamu ke rumah. Ketika ujian melandamu kau sosok yang tegar dan tegas dalam bertindak. Kau pernah marah pada sepupumu yang sering ku panggil Abba. Kau marah karena suatu alasan tentang anakmu & itu kali pertama aku menilaimu dengan sudut pandang yang beda. Mungkin aku menganggapmu seperti monster, tetapi aku akan mengerti dan menerima semua sikap kerasmu. Hingga aku remaja kau masih sama, bangun pagi buat kopi kesukaanmu dengan gelas favoritmu dan kadang aku mencicipi nya sepulang dari sekolah. kau tahu? kopi yang paling enak aku minum adalah buatanmu. Kau pasti tahu kalau aku sering minum kopimu secara diam-diam.
Aku melihat sesuatu yang beda darimu, entah karena faktor usiaku yang sudah memahamimu ataukah kau yang mengalami perubahan. Kau mulai bercanda dengan kami, ketika nurul ke rumah hanya main hp kau menyelidikinya dengan berbagai pertanyaan. Kau bilang kau tahu gerak gerik kami, nurul yang pacaran kau ceramahi dan sudah tentu aku tahu di balik sikap kerasmu, tersimpan khawatir untukku.
Kau mulai percaya padaku dan memberikan aku peluang untuk mengakrabimu, di setiap makan malam kau mendengarkan ceritaku, kau juga menikmati mie buatan cemilanku dan nurul ketika ngerumpi, kau tidak sadar kalau kami menyogokmu agar kami bisa ngerumpi tanpa mendengar kau berdehem sebagai isyarat. Kau sangat menggemparkan dunia kata nurul.
Kau selalu merepotkanku di setiap hari jumat. Sebelum berangkat sholat jum'at kau memintaku mencukur rambutmu. Aku tidak bisa menolak atau membuat rambutmu berantakan karena di balik cermin kau selalu memberikan introgasi, kau memerintahku di bagian kuping-lah, di belakang-lah, di poni-lah bahkan kalau potongannya sedikit miring kau bakalan komplain. Aku seperti tukang cukur saja dan itu berlangsung tidak lama hingga aku benar-benar memilih jalanku sendiri. Sudah berapa tahun tidak bertemu denganmu, aku merasa kehilangan waktu kebersamaan denganmu. Aku mengingat semua omelanmu, sikapmu yang otoriter dan aku rindu makan denganmu sambil bercerita.
Tapi aku melihat kau semakin berbeda, kala aku menemuimu setelah beberapa tahun tak melihatmu kau menikmati waktu bercengkramamu dengan cucu-cucumu. Aku kesel karena kau tidak pernah seperti itu kepada kami anakmu. Kau berubah banyak sejak aku tak pernah mendengar kabarmu.
Dan yang membuat aku terharu adalah ketika kau mengatakan bahwa para sahabat sesepuhmu selalu merindukanku, mereka jarang ke rumah semenjak aku pergi. diantara tiga sesepuh lainnya satu telah meninggal dan aku turut berduka. Dan yang membuat aku ingin menangis adalah ketika kau bilang "anakku telah tumbuh dewasa tanpa pengawasanku".
Aku menghormatimu. Kau pria yang beda di antara orang tua tetangga & sahabatku, ketika aku melihat gerik aneh pada orang tua tetangga aku melihat sudut yang lain dari sikap kerasmu.
Kau pernah bilang padaku ;
Ujian itu sebentar aja, jadi hadapilah sebisamu.
Sampai sekarang kata-kata itu membekas seperti harta yang paling berharga darimu.
Aku mendoakanmu, tetaplah sehat dan kuat di masa tuamu....
Saat ku tulis coretan ini, aku sedang terjaga dari tidur lelap ku.
Hari itu, aku mengatakan kepada mars kalau kau sosok pria yang kejam, menakutkan, seperti romusha, dan semua kata-kata jelek tentangmu ku ungkapkan padanya. Aku juga bilang kau punya sebuah bilah kayu yang mungil sebagai ancaman kepada anak-anakmu jika melakukan kesalahan. Walaupun bukan sebuah pedang tapi kayu juga sangat menakutkan bagi kami anakmu.
Aku tidak menikmati masa kecilku untuk merasakan apa arti menangis dengan suara yang menjerit seperti kebanyakan anak kecil yang menangis dengan suara lengkingan. Jika aku menangis semua akan menakutiku dengan kayumu jika mengeluarkan suara tangisan, aku tidak bisa menolak ancaman itu, jadi aku hanya bisa menangis tanpa suara. Tapi aku yang sering di ganggu, tetap saja tidak pernah mengadu.
Kau seperti raja yang kejam pada rakyatmu, yang tidak mau peduli pada pendapat kami.
Badanmu yang tidak perkasa tetap tidak membuat kami bisa melawanmu, kau kami hormati, patuhi, dan ketika berbicara denganmu harus dengan kata yang sopan santun. Meskipun begitu, kami tetap menjadi anak yang penurut.
Rumah menjadi sepi ketika anakmu mulai berkeluarga dan melanjutkan pendidikan di kota lain. Artinya hanya aku, bapak & mama di rumah. Walaupun begitu, aku punya nurul yang selalu datang menemaniku. Kau pun hampir tiap malam di kunjungi oleh teman seperjuanganmu, para sesepuh yang setia menemanimu ngobrol. Saat itu aku mendengar kau berbincang dengan para sesepuh lainnya membahas G30S PKI, membahas lubang buaya, jaman pak soekarno sampai pak soeharto, bahkan kau bersemangat sekali berbincang hingga ke rana partai politik di jamanmu. Aku tahu cerita itu di buku pelajaran sejarah, tapi aku ingin sekali mengajakmu berdebat tentang sejarah bersama sesepuh yang lain. Tapi aku tidak punya keberanian sama sekali saat itu.
Masih sangat jelas di ingatanku, ketika di rumah hanya kita berdua, mama sedang berkunjung ke rumah saudaranya selama dua hari, aku yang ingin merasakan nonton bareng seperti menikmati komedi putar ala sinetron terfavorit tersanjung dengan nurul di rumah sempuh tetangga di ujung lorong tak berani meminta ijin. Kala itu aku menunggu agar kau tidur cepat dan aku bisa kabur lewat jendela. Akhirnya aku nekat keluar rumah dan bertemu nurul, aku merasa salah karena keluar tanpa ijinmu, aku tidak konsentrasi menonton walaupun suasananya sangat ramai. Aku pulang dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi, esoknya kau menatapku dengan aneh dan aku tahu kalau kau sedang curiga padaku. Aku tidak pernah bisa berbohong tapi aku tidak mau membahasnya.
Kau paling tidak suka melihat anakmu keluar rumah di kala senja datang, bahkan aku dan nurul hampir saja mendapat hukuman darimu ketika bermain di luar rumah kemudian berlari masuk ke pintu depan dan kemudian kami saling mengejar dan kau datang dengan wajah murka menatap kami. Aku sangat takut waktu itu. Hingga nurul tak kunjung datang malamnya untuk menemaniku.
Aku benar-benar marah padamu, aku juga jarang bercakap-cakap denganmu, aku pikir kau melatih anakmu seperti narapidana. Semua inginmu harus di dengarkan dan tidak ada yang boleh menolaknya.
Seiring berjalannya waktu aku belajar memahamimu, ketika makan bersama aku mencoba mengakrabimu, bercerita yang tidak penting dan membuat lelucon agar aku bisa melihatmu tertawa, karena kau orang yang diam dengan seribu ekspresi yang tak bisa di mengerti. Aku ingin sekali membantahmu sekali kali, tapi tidak pernah bisa, bahkan kita punya jam waktu makan tertentu dengan piring & gelas kesayanganmu. Bahkan aku sempat iri dengan piring makanmu yang unik itu, kau selalu menikmati makan dengannya sedangkan aku selalu tidak punya keberanian memberontakmu. Jika para sesepuh datang ke rumah aku tergesa-gesa menyiapkan kue apa saja yang ada di toples, para sahabatmu sangat menyukaiku dan senang bertamu ke rumah. Ketika ujian melandamu kau sosok yang tegar dan tegas dalam bertindak. Kau pernah marah pada sepupumu yang sering ku panggil Abba. Kau marah karena suatu alasan tentang anakmu & itu kali pertama aku menilaimu dengan sudut pandang yang beda. Mungkin aku menganggapmu seperti monster, tetapi aku akan mengerti dan menerima semua sikap kerasmu. Hingga aku remaja kau masih sama, bangun pagi buat kopi kesukaanmu dengan gelas favoritmu dan kadang aku mencicipi nya sepulang dari sekolah. kau tahu? kopi yang paling enak aku minum adalah buatanmu. Kau pasti tahu kalau aku sering minum kopimu secara diam-diam.
Aku melihat sesuatu yang beda darimu, entah karena faktor usiaku yang sudah memahamimu ataukah kau yang mengalami perubahan. Kau mulai bercanda dengan kami, ketika nurul ke rumah hanya main hp kau menyelidikinya dengan berbagai pertanyaan. Kau bilang kau tahu gerak gerik kami, nurul yang pacaran kau ceramahi dan sudah tentu aku tahu di balik sikap kerasmu, tersimpan khawatir untukku.
Kau mulai percaya padaku dan memberikan aku peluang untuk mengakrabimu, di setiap makan malam kau mendengarkan ceritaku, kau juga menikmati mie buatan cemilanku dan nurul ketika ngerumpi, kau tidak sadar kalau kami menyogokmu agar kami bisa ngerumpi tanpa mendengar kau berdehem sebagai isyarat. Kau sangat menggemparkan dunia kata nurul.
Kau selalu merepotkanku di setiap hari jumat. Sebelum berangkat sholat jum'at kau memintaku mencukur rambutmu. Aku tidak bisa menolak atau membuat rambutmu berantakan karena di balik cermin kau selalu memberikan introgasi, kau memerintahku di bagian kuping-lah, di belakang-lah, di poni-lah bahkan kalau potongannya sedikit miring kau bakalan komplain. Aku seperti tukang cukur saja dan itu berlangsung tidak lama hingga aku benar-benar memilih jalanku sendiri. Sudah berapa tahun tidak bertemu denganmu, aku merasa kehilangan waktu kebersamaan denganmu. Aku mengingat semua omelanmu, sikapmu yang otoriter dan aku rindu makan denganmu sambil bercerita.
Tapi aku melihat kau semakin berbeda, kala aku menemuimu setelah beberapa tahun tak melihatmu kau menikmati waktu bercengkramamu dengan cucu-cucumu. Aku kesel karena kau tidak pernah seperti itu kepada kami anakmu. Kau berubah banyak sejak aku tak pernah mendengar kabarmu.
Dan yang membuat aku terharu adalah ketika kau mengatakan bahwa para sahabat sesepuhmu selalu merindukanku, mereka jarang ke rumah semenjak aku pergi. diantara tiga sesepuh lainnya satu telah meninggal dan aku turut berduka. Dan yang membuat aku ingin menangis adalah ketika kau bilang "anakku telah tumbuh dewasa tanpa pengawasanku".
Aku menghormatimu. Kau pria yang beda di antara orang tua tetangga & sahabatku, ketika aku melihat gerik aneh pada orang tua tetangga aku melihat sudut yang lain dari sikap kerasmu.
Kau pernah bilang padaku ;
Ujian itu sebentar aja, jadi hadapilah sebisamu.
Sampai sekarang kata-kata itu membekas seperti harta yang paling berharga darimu.
Aku mendoakanmu, tetaplah sehat dan kuat di masa tuamu....

Komentar