Di suatu tempat


~Tempat di mana kau akan menemukanku~

Banyak orang yang berdekatan, tapi tak saling terikat. Ada orang berjauhan tapi jiwanya saling terhubung. Aku hanya ingin hati dan pikiranku menyatu bersamamu, meski fisikmu semisal tak slalu berkesempatan tuk hadir menemuiku.

Seringkali jarak menjelma menjadi kesibukan kita masing-masing, pekerjaan yang seolah tak kunjung usai, kesempatan yang slalu diabaikan demi kepentingan ego atau alasan lain. Tapi aku hanya ingin menjadi selayaknya rumah yang slalu ingin kita pulangi. Sejauh apapun jarak yang di tempuh aku hanya ingin menjadi rumah tempatmu kembali. Rumah yang bukan hanya sekedar persinggahan tapi tempat yang kamu percaya untuk berbagi dan menunjukkan siapa diri kamu; apa adanya, tanpa penghalang. Agar kamu menjadi nyaman tanpa tekanan ataupun paksaan.

Pulangmu tak selalu berupa fisik yang harus hadir di hadapanku. Yang harus absen dan tak pernah alpa menyapaku. Pulangmu juga bisa melalui kabar yang menghubungkan aku agar merasakan hadirmu yang tengah merindukanku. Dengan begitu aku akan memastikan bahwa kau baik baik saja, itu jauh lebih penting dari pada hadir fisikmu yang hanya sekedar ada di hadapku dengan pikiran yang jauh kemana mana.

Jika perempuan lain menginginkan pasangan yang bisa melindunginya, yang bisa membuatnya nyaman dalam kondisi apapun, yang selalu ada ketika dibutuhkan dan yang bisa mengerti dirinya.
Aku hanya ingin kau membutuhkanku, sebagaimana hatiku selalu punya ruang untukmu pulang.

Kamu tahu?
Seseorang pernah menulis seperti ini; bahwa ada ego tertentu yang membuat para laki-laki selalu ingin tampak lebih kuat di hadapan perempuan, bahkan jika perempuan itu adalah orang terdekatnya sekalipun. Jika perempuan adalah makhluk yang paling pandai menyimpan perasaannya, laki-laki adalah makhluk yang sok pandai menyimpan masalah yang dialaminya. Sayangnya, ada kepekaan tertentu yang membuat perempuan bisa merasakan kalau laki-lakinya sedang punya masalah. Jadi, tak perlu bersusah payah untuk merahasiakannya, karena aku akan tetap merasakannya, walaupun aku belum tahu apa masalahnya.

Segala sesuatu harus berawal dari "rumah", sekecil apapun hal itu. Karena orang orang yang akan bahagia ada di dalam sini bukan dari luar sana. Karena kalau kamu memulainya dari luar sana, kamu akan kehilangan apa yang ada di dalam sini. Padahal, kebahagiaan selalu dimulai dari apa yang sudah kita punya. Sekalipun yang kita punya itu hanyalah sepotong senyuman, sepenggal maaf atau seuntai rasa terimakasih. Apapun bentuknya adalah saling menghargai dan menerima.

Jika Kamu berkutat pada sesuatu yang belum tentu bisa membahagiakan kamu dengan mencari yang di luar dari orang dekatmu, pada saat yang samapun sebenarnya kamu mulai kehilangan kebahagiaan kamu sendiri. Karena kebahagiaan itu kamu sendiri yang ciptakan.

momentum yang harus kamu gunakan untuk menghargai diamku adalah lima menit untuk menungguku bersuara, jika menit telah berlalu dan kamu juga tak mendengarku bersuara maka tolong berilah aku ruang untuk melepas rasa tertekan itu, rangkul lah aku dan bebaskan aku.


Akhirnya, kamu akan menemukanku ketika hati dan pikiranmu menyatu untuk mengingatku. Rumahmu adalah aku dan tempatku adalah saat dimana hati kita menyatu menjadi satu.

Komentar

Postingan Populer