Diary Dia

Dia bukan namanya. Dia hanya sebutan untuk tidak mengungkapkan nama sebenarnya..

Dia, sebut saja seperti itu...

“Kau bodoh ! sampai kapan kau terus ngumpet di kolom meja, cepat kembali ke tempat duduk mu atau aku akan berteriak kau sedang bersembunyi" kilah seseorang yang sedang bersamanya saat itu.

"Sttstt.. kali ini saja !" bisik dia penuh permohonan kepada orang itu.

"Baiklah, kau bebas kali ini !" kata orang itu.


*Dear diary..

Hari ini aku terjebak oleh hujan, aku tidak bawa payung dan buku di tasku basah seperti bajuku yang sudah basah kuyup. Tapi aku bahagia, anak kelas 5 SD sepertiku harus selalu bahagia bukan? Mungkin aku saja yang menyukai hujan karena teman yang lain berteduh.
Seseorang dari belakang tiba-tiba mengejar ku dan menghalangi langkahku. Ah, orang itu lagi... 
Aku tidak bisa menghindarinya, aku tertekan dengan sikapnya. Aku ingin teriak jangan halangi jalan ku, jangan kejar aku seperti itu, karena aku bukan pencuri.. 
Berhenti bilang "menyukaiku" kataku padanya.
bahkan aku tidak mengambil apa-apa dari orang itu.. Ah, hujan turun makin deras dan aku berlari.. Melarikan diri dari pengganggu. Kali ini, hujan menyentuh kehidupanku lalu mengusik ketenangan ku.


*Dear diary..
Ada anak baru di kelas 5 dan aku sekelas dengannya, namanya "Rahasia". Kau tanya kenapa aku tidak menulis namanya kan? sudahlah, dia masih anak baru, baru aja seminggu yang lalu pindah ke sekolahku, baru aja dua hari lalu meminjam buku ku, baru aja tadi pagi membuat teman perempuanku di kelas salah tingkah dengan rayuannya bahkan baru aja aku  di gangguin dan aku tidak suka anak baru itu menyebalkan. Ah, aku tidak suka berbincang lama dengan orang baru yang tidak ku akrabi. Orang baru sangat banyak ingin tahunya dan aku merasa tertekan dengan tingkahnya itu.


*Dear diary..
Hal yang aku benci adalah pulang sekolah tanpa teman, hal yang tidak bisa ku hindari adalah menunggu namun akhirnya kecewa. Yah, aku menunggu temanku untuk pulang bersama. Dia tetangga jauh tapi melewati rumahku, dia cerewet tapi selalu berpesan agar aku menunggunya di depan kelas jika jam pulang. Aku pernah menolak dan dia marah, jadi aku putuskan menunggunya. Ketika yang lain tiba di rumah, temanku ke luar dari kelasnya dan bilang bakal pulang sore karena ada tambahan pelajaran. Semudah itu dia menyarankan aku pulang sendirian, jalan kaki di tengah teriknya matahari dengan jarak lumayan jauh dari rumah. Karena aku sudah lelah menunggu akhirnya aku memberanikan diri pulang ke rumah sendirian. Jalanan sepi, lalu lalang kendaraan bermotor bisa di hitung 1 2 3. Tidak jauh dari sekolah seorang pengendara motor, om-om kira-kira berusia 40-an keatas, berhenti menawarkan tumpangan motornya padaku, dia bilang "adik, pulang sendirian jalan kaki jam segini, ayo ikut om bonceng pulang" dadaku terasa sesak melihat orang asing. Pikiranku kacau dan tanpa menjawabnya aku memutar badan berlari estafet sekencang-kencangnya kembali ke sekolah. Tanpa menoleh, tanpa beban, rasanya sangat ringan aku membawa langkah kakiku, jika ikut lomba parade lari kemungkinan besar akulah juaranya. Tidak lama berlari karena jarak tempuh hanya satu km. Sesampai di pintu gerbang sekolah aku merasa lemas dan ingin pingsan, ibu guru bertanya aku tetap berusaha tersenyum dan bilang baik-baik saja. Aku menuju rumah guru yang tinggal di belakang sekolahku, pura-pura menanyakan pelajaran praktek garam yodium tadi pagi yang tidak ku mengerti. Ibu guru yang tidak curiga menjamu aku dengan makanan dan aku rasa akan  memukul temanku lebih baik. Aku menunggunya hingga pukul tiga sore, tersenyum padanya lalu berbisik aku tidak mau lagi berteman dengannya. Sudahlah, apapun yang tidak mungkin menjadi kemungkinan bagiku. Aku tidak pernah menyangka bisa berlari sekencang tadi. Nilai penjas ku bahkan membuktikan aku tidak layak mengikuti olahraga, tapi ketakutan ku membuatnya jadi mungkin.


*Dear diary..
Usiaku sudah masuk remaja, tapi aku masih menyukai semua permainan kecilku. Aku suka permainan daun, kertas, batu, gunting, api, air dan aku menyukai temanku yang selalu setia bersamaku menikmati semua permainan. Temenku yang banyak, ada si bambang nakal, si rambut plontos dan jumlahnya tak terbilang jika sudah berkumpul dipekarangan sambil bermain tanah dan semua hal yang seru. Tapi si bongsor menyebalkan sekali, dia merebut mainan ku, menghancurkan masak-masakan ku yang terbuat dari daun. Aku tidak membalasnya sekarang, aku memaafkannya karena aku pernah membuatnya kesetrum listrik, tapi si bongsor itu lagi-lagi membuat masalah, ia menghadang jalanku dan aku berjanji akan membuatnya menangis. Tepat sore tadi aku tidak tahu apakah aku bahagia atau sedih melihatnya menangis ketakutan di gigit anjing gila. Aku berlari menutup pintu rumah dan menyaksikan semuanya dari jendela. Ah, mungkin ini nasibnya, tapi bagiku anjing gila itu lebih menyeramkan dari pada kuntilanak.


*Dear diary..
Aku harus menulis, sebenarnya aku masih gemetaran tapi kamu harus tahu. Baru saja tetanggaku datang nyebarin berita hot, katanya sekarang banyak pencuri kepala manusia. Hati-hati dengan modus dari orang asing yang pura-pura bertanya, percaya atau tidak aku harus bilang bahwa senja tadi ketika mengangkat jemuran seorang pengendara motor ciri-ciri perut buncit, warna kulit hitam, memakai helm hitam, jaket hitam, memutar kembali arah motornya dan menghampiriku lalu ketika turun dari motornya orang itu memperhatikan keadaan senja yang sunyi tanpa orang-orang diluar rumah. Melihatnya aku takut, sangat takut dan aku meninggalkan jemuran yang jatuh di tanah lalu berlari masuk menutup daun pintu, aku tidak menangis tapi jantungku rasanya ingin copot. Ketika aku mengintip di jendela orang itu kembali mengendarai motornya sambil memperhatikan keadaan. Mungkin benar orang itu penguntit kepala manusia.


*Dear diary..
Aku sekarang duduk di kelas 1A, aku kembali bertemu dengan teman lama SD ku , dulu kami berpisah pas kelas 3 SD. Tapi aku merasa akhir-akhir ini tidak bahagia karena temanku itu berubah banyak, karena kakak kelas itu? Ah, aku merasa tertekan dengan penghakiman orang-orang yang bawel. Hei, aku benar-benar tidak tahu menyukai kakak kelas itu jadi kamu bebas tanpa aku. Ah, temanku lebih percaya kompor dari pada air. Aku pikir permainan baru akan di mulai dan mari bertarung, kataku;


*Dear diary..
Untuk waktu yang lama berdiam, aku akan menulis dan mengabarkan kamu kembali bahwa seseorang selalu melihat ke arahku dengan tatapan aneh, aku kira orang itu hobi memandang dari kejauhan, tapi kenyataannya orang itu terus menatap aneh dengan waktu yang lama hingga aku tidak tahu sepertinya frekuensi denyut jantungku naik turun. Semacam getaran melalui infra merah, oh tidak, semacam bisikan yang di bawa angin. Oh tidak, aku sungguh tidak tahu apakah ini di usiaku yang masih belia. Mungkin ini yang dikatakan ketakutan yang luar biasa hingga mulut pun ikut bungkam ketika dekat dengan orang itu. Aku takut pada bisikan angin yang meluluh lantahkan harapanku.


*Dear diary..
Suka atau tidak suka, adik kelas itu sangat mengesankan. Dia cukup pandai menggoda dan aku takut melihat senyumnya. Hal yang aku takutkan ketika rumor yang beredar tidak sesuai fakta. Menghindar adalah hal yang baik sekarang, dan aku sungguh tidak kuat melewati hari-hari yang suram ini. Abaikan saja ! kataku;


*Dear diary..
Butuh waktu menghapus jejak dan ingatan yang menakutkan. Tapi rasanya tidak sekarang, saat putih abu-abu merupakan masa terindah lain halnya denganku. Aku menciptakan "Ambisius", untuk mengubah rasa takut " sebagai senjata pelindung dalam menantang". Babak kehidupan terus berlanjut, setiap hari kehidupan terus bertambah warna dan kamu tahu? tetap saja ada penguntit, pengganggu, pembuat onar, pencuri hati dari berbagai penjuru . Aku menginginkan kantong ajaib doraemon,aku mau jadi saras dan aku suka pokemon. Tapi tetap saja penekanan itu datang seperti tanda seru ! Ah ini semacam menumpahkan sampah di atas kertas, tak layak di sebut diary sekarang.

“Hei, kenapa harus di kolom meja ! sampai kapan kau bersembunyi ?" tanya seseorang yang sedang bersamanya.

"Kumohon, bantu aku agar tidak terlihat " pintanya sambil menahan gugup.


"Ayo, lekas berdiri. Orang yang di samping lift itu sudah pergi " kata temannya.

"Ah syukurlah, " desahnya sambil menarik nafas panjang.

"Ceritakan padaku, kenapa kau seperti melihat hantu ?"

"Tidak ada apa-apa"

"Kau bohong, tadi kau seperti ketakutan, kau sembunyi dan kau menyembunyikan sesuatu,"

"Oke, aku hanya tidak suka orang seperti tadi itu mengedipkan matanya dengan genit ke arah ku."

"Bohong... bohong.. kau... Ah sudahlah, aku tidak peduli walaupun aku penasaran"

Senyum telah menutup ceritanya, dia menyimpannya dalam diary dan ingatannya.

Dia hanya butuh waktu yang santai, dia butuh waktu untuk menyempurnakan kisahnya. Dia penuh ketakutan, penuh khawatir, seperti tekanan yang sulit dilupakan, dia tidak suka dipaksa tapi keadaan selalu memaksanya diluar koridor.

Dia~


Komentar

lolfebrina mengatakan…
Cerita nya bagus. Saya suka saya suka.

Postingan Populer