"KAMU adalah hujan di tengah kemarau ku"

Hari itu seorang pelanggan datang ke toko, dia menginginkan kue yang sudah aku pesan. Penjual belum sempat memberitahunya bahwa kue itu adalah pesanan ku. Kau tahu apa yang dia lakukan? Dia mengambil krim nya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia berkata; kue ini sangat enak sekali.

Aku diam. Batinku berkata; tidak apa-apa, dia hanya sekedar mencicipi, dia tidak bisa membawanya pergi karena kue itu adalah pesanan atas namaku. 

Di masa lalu kue itu, ibarat kamu. Yang belum sempat ku ambil.

Selasa, 17 September 2013.

Biasanya kau akan berdebar, jika berpikir punya kesempatan memiliki sesuatu atau mengharapkan sesuatu.

Tapi aku tidak merasa berdebar saat kamu mendekatiku, bahkan aku tidak peka dalam menangkap perasaan. Hingga malam ini tiba. Aku, kamu dan nur berada di tempat yang sama untuk berbincang. Lalu kamu bilang kepadaku untuk belajar "membaca" .
Kamu mengatakan itu di saat sudah menjalin hubungan baru bersamanya. Baru kemarin  meresmikan hubungan dengan status " berpacaran ".

Taman bekapai menjadi saksi bahwa aku belum memahami perasaanmu.

Selasa, 8 oktober 2013.

Kita tak berdebar saat senang, kau tak akan berdebar, jika hal itu milikmu. Apa jantungmu berdebar karena dapat gaji? Pasti tidak. Itu hak mu, itu milikmu.

Lalu aku dan kamu, kita hanya sebatas teman. Tidak ada yang istimewa.

Esoknya, kita menikmati siang yang terik di tempat karaoke. Aku, kamu, nur dan elwin. 

Terminal rasa, menjadi tempat persinggahan kita yang kini sudah di renovasi. 

Penghujung 2013 pun berakhir dengan ;
Aku dan jalanku.
Kamu dengannya.

Jumat, 14 Maret 2014.

Jantungmu baru berdebar saat kau tahu hal itu bukan milikmu, tetapi kau pikir berkesempatan memilikinya. Hubungan wanita dan pria pun begitu. 

Kembali kita ber- empat mengulur waktu di karaoke happy puppy.

Aku jadi tahu beberapa hal tentangmu, Walaupun pernah menyukai ku, kamu bukan " orang yang mudah goyah ". Kesetiaan pada hubunganmu membuatku  " tertantang ".

Suatu hari, mungkin aku akan memesan namamu. 

Rabu, 27 agustus 2014.

Terkadang orang yang sudah menikah langsung tahu jodohnya sejak awal bertemu. Menurut cerita pengalaman mereka, saat melihat pasangannya  mereka berpikir "rupanya kau jodohku"
Bukannya debaran tetapi mereka merasakan ketenangan. Sejak awal mereka tahu itu milik mereka.

Aku juga ingin tahu, apakah kamu akan jadi jodohku? Saat pertama kali kamu mengatakan padaku " agar belajar membaca", itu sama halnya seperti mengucapkan perpisahan pada hati yang belum terketuk. Apa kamu akan jadi jodohku? Saat ini aku merasa tertantang pada apa yang kamu lakukan di depan mataku. Aku belum merasakan ketenangan itu.

3 Maret 2015.

Orang kaya tak pernah mengharap barang bermerek dan mewah. Mereka langsung beli. Saat kau mengharapkan sesuatu, jiwamu sebenarnya sudah tahu sejak awal hal itu bukan milikmu.

Kita kerap kali berada dalam situasi yang tidak terbaca. Kamu seringkali usil dan menarik narik jilbabku, siti bilang; awas nanti jodoh !

Kataku; tidak mungkin.

Hatiku belum merasakan ketenangan itu.

26 Desember 2015

Kau ingin memilikinya tetapi merasa stress karena tahu tidak akan bisa. Begitulah kira-kira beberapa hubungan yang kandas atau berakhir sebelum di mulai.

Malam ini kita ber-tiga saja, sedang menikmati santapan ayam goreng. Kamu memenangkan audisi poem contest dan mentraktir makan malam. Sementara kita melakukan obrolan, nyamuk pun ikut nimbrung.

Kacong, Dondang.

Penghujung 2015.

Saat waktu terus berjalan, langkah semakin jauh, ada banyak hal yang tak terlewatkan. Saat aku,kamu dan elwin sedang nonton bioskop, kita hanya bertiga karena nur tiba-tiba ada plan dadakan, kamu bergegas pulang saat film baru saja usai, hanya karena ada urusan mendesak mungkin, saat itu aku membatin; kali ini ku sematkan namamu. Aku benar benar belum merasakan ketenangan itu. Tapi aku menantang perasaanku sendiri untuk membuatmu melihat bahwa aku suka dan akan slalu menjadi orang yang "di prioritaskan". Aku sedang tidak bercanda. Sekarang aku sudah memesan namamu.

Agustus 2016.

Sore itu, kita kembali ber-tiga seperti mengulang waktu. Taman bekapai menjadi tempat sekaligus saksi, saat kamu mengatakan telah menjalin hubungan maupun telah mengakhiri hubungan. Saat dimana kamu berawal dan berakhir. 

Aku tidak pernah sama sekali membayangkan hari seperti ini datang. 

        
Menariknya, kita sokongan beli gorengan. 


November  2016.

Jangan terlalu berharap, maka kau tidak akan kecewa.

Dalam perjalananku, sampai hari ini pun aku dan kamu, kita berteman, dulu bahkan sekarang hubungan kita tidak lain hanyalah sebatas itu. Kita tidak dekat. Belum ada yang istimewa. Baik dulu ataupun saat ini ketika kamu datang selalu di saat yang tidak tepat. Bedanya sekarang kamu secara transparan menunjukkan perasaan sukamu. Sedang aku berada di fase mengikhlaskan segala jalanku yang ada di depan. 

Akankah bangkirai menjadi tempat persinggahan, ataukah sebaliknya?

Aku belum merasakan ketenangan itu.

Penghujung 2016.

Segala yang bukan milikmu, tidak akan bisa bersama.

Akankah waktu memihak cerita kita?

Januari 2017.

Suatu ketika aku sedang tidak baik-baik saja, kamu datang ke rumah membawa obat. Apakah aku terkejut? Tidak. Aku malah mengusir mu dari rumah. Lalu kamu tidak menyerah begitu saja.

Mungkin rasamu telah di uji oleh waktu.

Februari 2017.

Kamu tiba-tiba memberikan aku sebuah kado berisi sepatu bertuliskan ; semoga setiap langkah yang di ambil mendapatkan ridho Allah. Saat itu perasaanku belum terbaca, tetapi waktu sudah memihak mu. Di saat aku dalam pertanyaan " kapan kamu menikah?" . (Sungguh ini adalah hal yang paling mengganggu, tentang bagaimana kita berada di lingkungan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan urusan hidup orang dan kerap kali menjadi pembanding yang memberi tekanan).

Kamu datang dengan segala perhatian dan kasihmu, dengan komitmen dan keseriusan.  Tanpa bertanya kamu bahkan lebih memahami ku dari pada aku memahami diriku sendiri.

Maret 2017.

Di zaman modern ini. Aku berusaha mengatakan sesuatu padamu melalui buku kecil, karena aku tidak ahli menggunakan mulut untuk mengungkap isi hatiku (terkadang hatiku bertolak oleh mulut). Sangat kuno mungkin tapi hanya itu cara bagiku untuk memberitahumu bahwa terkadang aku tidak ekspresif. Mungkin kamu akan melewati kesulitan dalam mendekatiku. Ketika membaca balasan darimu aku sudah tahu bahwa kamulah orang yang tepat untuk membawaku padaNya.

April 2017.

Selalu ada kegilaan dalam cinta,
Kutipan dari buku maka berbicaralah zarathustra karya nietzche, bisa saja menyukai seseorang merupakan salah paham dalam mengartikan orang lain sesuai maumu.

Di rumah sedang ada acara, ada purnama, nur dengan teman barunya, elwin dan kamu . Tetapi saat itu aku malah tidak menghiraukan kamu dan sibuk dengan yang lainnya, malam jadi senyap bukan karena mati lampu tapi aku menangkap sinyal yang kurang baik dari raut wajahmu. Mungkin kamu kecewa lalu pulang cepat. Aku sedang bertanya pada diriku, apakah kamu akan mengartikan diriku sesuai gambaranmu ataukah kamu akan memahami ku saja? 

Terkadang kita di kecewakan oleh harapan dan di sesatkan oleh pikiran sendiri. Tapi setelah kamu mengirim pesan aku jadi tahu "kualitas diriku". Melalui dirimu aku menemukan diriku.

Mei 2017.

Kamu adalah awal pembaharuan diriku. Bulan ini usiaku genap 25 tahun. Kini ku sadari  bilangan angka terus bertambah tapi poin poin dalam diriku belum ada peningkatan. Dalam kisah asmara aku sangatlah awam, namun perjalananku adalah persimpangan mu. 

Kamu penuh dengan kejutan dan sangat antusias.

Aku hanya belum terbiasa.

Juni 2017,

Jodoh akan datang dengan sendirinya tanpa di harapkan, itu milikku sejak awal.

Saat aku kerja, kamu tiba-tiba mengirim pesan bahwa keluargamu akan datang ke rumah. Jika di drama ada tahapan-tahapan berkencan sebelum menikah kamu melewatkan beberapa hal. Kamu selalu mengejutkanku. 

Semua serba cepat bagiku, semesta seakan mendukungmu. Waktu yang memihak mu memberi kelancaran dalam setiap proses pendekatan kita.

Suatu malam aku demam, kamu datang membawaku berobat. Ketika di rumah saat itu ada kita bertiga, aku, kamu dan ibu. Di depan ibu aku melamar mu.

Kebalik ya?

Setelah perjuangan panjangmu, entah kenapa tiba-tiba ketenangan itu datang lalu mulut berucap begitu saja.

"Mari kita menikah di bulan Juli".

Ketakutan itu hilang berganti kesiapan akan kedatangan. Pendekatan singkat penuh hikmat, kamu dengan namamu, semoga Tuhan yang maha Rahman melimpahkan keberkahannya.

Juli 2017.

Inilah kita, ku sematkan namamu kupanjatkan doa padaNya yang terkasih.

Kita pernah melewati jalan dengan warna yang berbeda, apapun warna itu semoga tetap indah.

Aku ingin cinta yang unik. Penuh kehangatan dan menyatu. Hal itu sudah menjadi keinginan yang terbesit dalam hati. Jauh sebelum aku  benar-benar mengalaminya sendiri. Keinginan itu semakin kuat lalu menjadi sebuah pengharapan dalam keyakinan. Sebelum masanya, tiap hati pernah berdebar dengan berbagai rasanya masing-masing kemudian berlalu seiring masanya. Ada kalanya prasangka dikalahkan oleh logika, namun hati selalu tahu kemana arahnya. 

Aku ingin kehidupan yang menyenangkan, penuh hikmat dan berkatNya. Bertemu, saling mengenal, memahami dan menyatu bersama sang kekasih hati. Itulah kebahagiaan yang telah aku dambakan. 

Kita dua orang yang diikat oleh pernikahan. Karena pengalaman yang tak biasa kita alami bersama, kita jadi menyatu. Kita berpegangan tangan dan jantung kita kadang berdebar. Kita seperti menginjak kerikil-kerikil kecil dan menyebrangi jembatan tali bersama. Aku bersyukur kita di berikan kesempatan untuk merasakan dan menikmatinya. 

Bahkan, jika aku terlahir kembali. Aku tetap akan menikahimu setiap kalinya. Aku berharap kehidupan akan selalu mempertemukan kita, baik kini maupun di kehidupan selanjutnya.

Aku sangat bersyukur...

Kita diikat oleh takdir, di perkenalkan dengan indahnya cinta berkasih sayang, saling peduli dan menyatu. Selebihnya adalah bonus.

Aku sangat bersyukur...

Untuk kita yang merasakannya, kerinduan selalu menghampiri kala raga tak bersama. Tak perlu kata untuk saling peduli. 

Kekasihku..

Terima kasih sudah menempatkan ku diatas segala-galanya. Hingga aku mampu menemukan diriku sendiri bersamamu. Kini dan selanjutnya hanyalah luapan rasa syukur kepadaNya yang telah membuat kita ada dan merasakannya.




Komentar

Postingan Populer