Sajak Tak Bertuan
Wahai Kau yang slalu ku sebut,
Bilamana Aku mulai lelah
Bilamana Aku mulai putus asa
Bilamana Aku mulai jenuh
Akankah Kau Menemui ku?
Atau, akankah Kau tetap menanti ku di batas ketidakmampuanku?
Seperti Kau yang selalu setia padaku, akankah Aku memiliki kesempatan itu untuk datang padamu?
Janji itu..
Bilamana yang kau janjikan berada pada kepastian, tetaplah menunggu kedatanganku, hari ini, esok, lusa ketika Aku bermain-main dan semakin jauh menikmati kesemuan yang tak nyata ini, tetaplah raih Aku kembali pada pangkuan Mu. Janjiku pun tetap terjaga dalam ikrar suci, karena Aku masih berusaha untuk tetap mengetuk di ambang pintu Mu..
Dari hari ke hari…
Aku merasa Kau mempermainkan ku,
Kau tanam rindu yang entah Aku tahu cara melabuhkan nya.
Kau tanam sedih dan bahagia, lalu Kau menariknya tanpa memberiku jeda untuk menikmatinya.
Kau bahkan membuatku semakin mencintaimu, tanpa tahu bagaimana cara berpaling darimu.
Tapi aku masih merasa sulit untuk menemui mu.
Kau atau Aku atau adakah jubah penghalang?
Sehingga Aku sampai saat ini masih berdiam di tempat yang sama.
Lalu,
Diantara rasa yang kau tabur
Aku merasa Kau semakin merindukanku
Kau membuatku menangis jika sehari tidak ku sebut namamu
Kau jamah hatiku dari kesunyian
Kau tenggelamkan Aku pada rasa yang tidak ku mengerti.
Aku mencoba menengok dirimu
Berharap tirai telah terbuka,
Aku terus mencoba
Hingga Aku pernah tersesat jauh di kedalaman rasa yang hampa.
Tetap saja Aku terhalang
Untuk memandang Mu
Wahai Cintaku,
Ajaklah Aku masuk agar waktu yang ku jalani ini tak sia-sia. Karena Aku lelah dan yang kutemui hanya cinta yang makin dalam pada dirimu.
Tidakkah Kau juga merasa, bahwa kebersamaan-Ku denganmu pada kedalaman dirimu sendiri semakin tergambar, lalu mengapa Kau masih mempermainkan Aku?
Tidakkah Kau pahami bahwa Aku banyak tidak tahu, hingga keterlibatan Mu padaku tak terbaca dengan jelas?
Wahai Kau yang menanti ku…
Sedikit saja kau membuka tirai itu, Aku akan berlari membawa segenap rasa ini kembali. Karena sungguh Aku tak pantas merasa nya terlalu banyak, karena itu adalah Hak Mu yang hanya Aku pinjam.
Sudahkah Kau menerimaku?
Atau haruskah Aku tetap di ambang pintu ini?
Aku ingin mengembalikan milikmu,
Tapi Aku juga ingin memilikimu?
Apakah Aku terlihat menuntut?
Jika Kau sudah lama menungguku, jangan pernah tinggalkan Aku dalam kebimbangan.
Sebab, Kau adalah sesuatu yang ada padaku.
Bisakah Aku tinggalkan sejenak saja semua rasa ini?
lalu, menari bersamamu...
Tuhan ku yang terkasih, yang maha pengasih dan penyayang.

Komentar